Gurauan di Iran yang terkenal berbunyi: Kalau para malaikat membunyikan terompet mengumumkan Hari Pengadilan Akhir maka kaum syiah akan bertanya kepada kaum Suni: apa alasan pembunyian terompet. Seseorang menjawab Hari Pengadilan Terakhir telah tiba. Dan akan dijawab pula oleh Syiah: kalau begitu bagi kami berarti besok.
Gurauan sarkastis itu hanya merupakan lontaran frustasi umat Muslim karena tidak ada kesepakatan antara golongan politik dan kelompok teologi tentang kesatuan merayakan hari-hari penting umat Islam. Sebagian besar negara Islam memutuskan Senin 1 September sebagai hari pertama bulan suci Ramadan, awal ibadah puasa umat Muslim.
Itu tidak berlaku untuk empat negara. Libya dan Nigeria memulai Ramadan pada hari Minggu 31 Agustus, sedangkan Maroko dan Iran mencanangkan Selasa 2 September sebagai awal puasa. Irak seperti biasa terbagi dua. Bagi kaum Suni puasa dimulai Senin, sedangkan kaum Syiah Selasa.
Kaum Syiah biasa menunda Ramadan serta perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, sehari setelah perayaan kaum Suni. Itulah yang membuat pemerintah Irak memutuskan libur sepekan penuh untuk merayakan hari raya kurban Idul Adha, peringatan umat Muslim atas pemberian maaf Tuhan kepada Nabi Ibrahim, yang tahun lalu bertepatan dengan Hari Natal.
Berbagai alasan
Ada berbagai alasan mengapa orang Muslim berbeda dalam menentukan awal Ramadan. Antara lain perselisihan politik dan sektaris yang sudah bertahun-tahun lamanya berdasarkan alasan teologi. Sebagai contoh di Libya, awal Ramadan dimulai berdasarkan kalender astronomi, berbeda dengan negara-negara Islam lainnya yang bergantung pada munculnya bulan sabit, sebagai awal Ramadan atau awal bulan kesembilan dalam tahun Hijriyah.
Untuk mengatasi perbedaan awal bulan suci, Dewan Teologi Islam, menyerukan kompromi berdasarkan munculnya bulan yang tidak berlawanan, dengan perhitungan kalender astronomi. Dewan juga mengumumkan hanya mengikuti satu metode saja berlawanan dengan hukum Islam Sharia. Hukum Sharia melakukan perhitungan sesuai Al Quran, yaitu bulan muncul sesuai dengan hadis al Quran.
Perhitungan astronomi
Bagi para rohaniwan Syiah, bulan suci Ramadan dimulai begitu terlihat bulan sabit. Itu menandai awal bulan dan puasa berawal sehari setelah kaum Suni. Dalam beberapa tahun belakangan, banyak seruan mendirikan Dewan Islam yang mewakili seluruh bangsa Islam. Salah satu tugasnya adalah mencapai kesepakatan tentang awal bulan suci Ramadan.
Konflik tentang perbedaan sektarian yang sebenarnya terjadi di kalangan aliran Islam seperti Wahhabisme, aliran konservatif Islam Suni yang mendominasi Arab Saudi. Banyak pengamat beranggapan, penolakan mati-matian bagi penghitungan astronomi dan bertahan pada pandangan mata telanjang bagi munculnya bulan, bukanlah semata-mata perbedaan teologi. Ini juga lontaran anti modernisasi atau setidaknya upaya melindungi agar modernisasi tidak menggantikan tradisi Islam kuno.
Debat itu mengakibatkan salah seorang insinyur Tunisia yang bekerja di badan Antariksa nasional Amerika NASA untuk menemukan teropong elektronis yang ditempelkan pada kamera sehingga setiap orang dapat melihat dengan jelas munculnya bulan sabit.
Politik
Perbedaan teologis dan sektarian bukan satu-satunya alasan di balik perselisihan tentang awal ramadan. Politik juga berperan penting. Pada tahun 1970an, negara-negara Arab radikal seperti Irak, Suriah, Libya dan Yaman memilih waktu yang berbeda untuk memulai Ramadan sebagai tanda menentang Arab Saudi yang saat itu mendominasi politik, ekonomi dan keagamaan. Beberapa tahun setelahnya negara-negara itu secara perlahan tidak lagi menentang Arab Saudi.
Sekarang hanya tinggal Libya yang menentang Arab Saudi. Kolonel Muammar Kadhafi sendiri menyerukan internasionalisasi tempat-tempat suci Islam di Arab Saudi. Namun gagasan itu tidak didukung negara-negara Islam mana pun. Sebagian besar negara Islam mendukung Arab Saudi yang menentukan sendiri hari-hari perayaan penting umat Islam.
sumber: http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/arsipaktua/timurtengah/perselisihan_awal_ramadan080902-redirected
